Pencak Silat Blog adalah blog yang secara khusus berusaha untuk mengenalkan Pencak Silat sebagai warisan luhur nusantara khususnya Indonesia agar lebih dikenal dunia

Tampilkan postingan dengan label Sahabat Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Silat. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

Pengenalan Golok Sunda sebuah budaya yang perlu diperhatikan



Anatomi golok sunda Golok atau bedog sunda sangat beragam, karena tiap daerah di Jawa Barat memiliki variasi bentuk tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan karakteristik masing-masing masyarakat penggunanya. Golok (bedog) sunda umumnya memiliki bilah dengan panjang lebih dari siku tangan, namun ada pula bilah golok yang berukuran pendek kalau pendek disebut Golok 'bedog', golok sunda yang memiliki panjang bilah lebih dari siku tangan disebut kolewang atau gobang. Menurut fungsi golok untuk keperluan perkakas disebut Pakakas dan yang berupa senjata disebut Pakarang.
Bagian utama dari sebuah golok adalah bilah kalau di sunda disebut Wilah, dan penamaan golok umumnya berdasarkan pada bentuk bilahnya yang terbuat dari campuran besi dan baja, malah jaman dahulu ada yang mencampur pasir, perak,perunggu dan emas (kemungkinan malah dicampur dengan yang lain-lain), dengan berbagai macam-macam pula teknik tempanya.

Bilah golok disebut wilah:

-Bilah buntut disebut paksi.
-Ekor pada pangkal bilah yang dimasukkan pada pegangan golok disebut peurah.
-perut bilah disebut beuteung.
-Bagian yang tumpul dinamakan punggung disebut Tonggong.
-Ujung bilah golok disebut Congo
-Punggung bilah golok sunda ada yang lurus ada pula yang berpunggung melengkung atau dalam istilah Bentik.
-Ada bilah golok yang melengkung disebut Curug

Gagang Golok disebut Perah :

- Gagang melengkung dan memiliki ujungnya berbentuk bulat disebut eluk.
- Gagang atau perah yang agak miring dan melengkung berfungsi agar golok dapat digenggam dengan kuat dan nyaman.
- Ujung gagang atau perah yang ada 'cantelan'nya berfungsi agar jari kelingking terkait, menahan genggaman tangan agar tidak lepas tergelincir.
- Perah kebanyakan dibuat dari bahan kayu dan tanduk kerbau, selain itu juga digunakan tanduk rusa dan tulang hewan sesuai dengan keinginan.
-Biasanya bila bentuk bilah melengkung maka bentuk perah pun dibentuk melengkung

Sarung golok disebut sarangka :
- Fungsi utama Sarangka adalah agar golok dapat mudah dan aman untuk dibawa.
-Penyelipan sarangka dipinggang disebut 'disoren'
- Sama seperti perah, sarangka juga umumnya terbuat dari kayu. Adapula ditemukan sarangka yang terbuat dari kulit hewan, tetapi ini sangat jarang karena terhitung tidak aman dan cepat rusak, juga sulit mencari kulit binatangnya.
- Gelang-gelang pengikat sarangka yang terbuat dari tanduk kerbau atau lembaran logam yang disebut Barlen
- Pengikat kain golok disebut Simpay.
- Tempat gantungan golok ada di bagian luar sarangka disebut simeut meuting.

Dan bagi para pemain golok sunda dalam silat tua biasanya mengerti alur darah pada golok yang disebut dengan Runcang atau Jegong.

golok sunda

Share:

Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa



Jujur, ihlas, sportif, berani mengabdi, teguh pendirian, dan elegan. Pangkat-pangkat inilah yang layak disandang para pendekar dari Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa.

Lagi pula para pendekar dunia persialatan ini tak terlalu butuh pangkat-pangkat basah di pemerintahan yang akhir-akhir ini ramai diperebutkan orang banyak. Para pendekarlah sebenarnya yang berada di barisan terdepan perjuangan mendapatkan ?kedaulatan? negeri ini sekalipun belakangan nama mereka tidak banyak mendapatkan tempat dalam catatan sejarah yang didominasi oleh para diplomat dan politisi.

Di tengah-tengah kerumunan ratusan pendekar berbaju, celana, dan kopyah atau julbab hitam kelam itu penulis menemukan semangat menggebu-gebu untuk memperbaiki kondisi Nusantara yang telah dikacaukan oleh ?para pendekar berwatak jahat.? IPS-NU Pagar Nusa mengadakan Kongres di Pesantren Ciganjur Jakarta asuhan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jum?at-Ahad (23-25 September 2005) lalu.

Menjelang pelaksanaan kongres saya sempat berbincang dengan Ketua Umum IPS-NU Pagar Nusa yang selanjutnya terpilih kembali. Dialah Prof. DR. KH. Suharbillah. Perbincagan berlangsung akrab dan sama sekali tanpa rasa takut meski saat itu penulis berhadapan dengan seorang pimpinan pendekar yang brewokan dan bertubuh besar kekar. Salah satu ucapan Kiai Suharbillah yang penting begini:

?Saya sempat mendapatkan telepon dari oknum yang mengatasnamakan pengurus wilayah Pagar Nusa. Dia mengaku menawarkan wilayahnya untuk memilih saya sebagai Ketua Umum Pagar Nusa Periode 2005-2010. Namun dia bertanya kompensasi apa yang hendak saya berikan kepada wilayah itu. Saya balik bertanya, apakah Pagar Nusa sekarang sudah seperti itu?!?

Ya. Memang dalam banyak hal paguyuban (jamaah) yang empunya kejelasan kekuatan ?fisik? dan massa menjadi bahan-bakar utama untuk menjadi alat politik, dan dengan begitu para pentolannya tergolong orang yang berpunya. Namun Pagar Nusa tidak termasuk dalam bahagian itu.

?Saya sempat menawarkan kepada para pengurus Pagar Nusa, apakah kongres ini model Ansor atau model NU. Kalau model Ansor para anggotanya di kasih sangu. Namun kalau model NU malah dimintai urunan. Ternyata warga Pagar Nusa Lebih memilih model NU,? kata Kiai Suharbillah. Dua idealtipe barusan seharusnya tidak ada, namun kadang menjadi problem ideologis yang pertama-tama harus diperbincangkan secara intern, diselesaikan sampai tuntas.

Para pengurus cabang IPS-NU Pagar Nusa berangkat ke Jakarta dari daerahnya masing-masing, Jawa dan luar Jawa, dengan biaya sendiri. Sedari awal Kiai Suharbillah berpesan, ?Kami pengurus pusat tidak menyediakan tiket. Tiketnya nanti di surga dan insyallah lebih mahal harganya.? Itupun para pengurus Pagar Nusa yang hadir dimintai iuran 100 sampai 300 ribu-an percabang; jumlah yang lumayan besar untuk kebanyakan warga Pagar Nusa.

Budaya Bangsa

Jika Jam?iyyah Nahdlatul Ulama dan kalangan pesantren mengaku sebagai penjaga tradisi, maka Pagar Nusalah anak NU yang paling cinta dengan budayanya. Misalnya saja, jurus-jurus yang ada dalam Pagar Nusa tidak harus satu barisan namun disesuaikan dengan trend pencak di daerah masing-masing dan dinamai dengan nama daerahnya. Ada jurus Cimande, Kediri, Pasuruan, dan daerah lainnya. Pagar Nusa tidak terlalu gemar mengimpor jurus-jurus silat dari Asing apalagi sampai menamai jurus silatnya dengan istilah asing yang apalagi ngetrend.

?Sama dengan pesantren yang dulu-dulu itu. Namanya selalu identik dengan nama daerahnya. Ada Pesantren Lirboyo, Tebuireng, Langitan, dan seterusnya. Inilah pesantren yang asli, bukan pesantren yang belakangan dinamai dengan memakai nama dari bahasa Arab,? kata Kiai Suharbillah.

Tema yang diusung dalam kongres Pagar Nusa kali ini adalah ?Berjuang Menegakkan Moralitas dan Budaya Bangsa.? Pagar Nusa bertekat mengisi ruangnya sendiri sekalipun ruangnya yang lama dan klasik dan tak harus sama dengan yang lain. ?Kami akan menngalakkan gerakan ekonomi di seluruh basis NU dengan cara mengampanyekan kembali semboyan cinta terhadap produk sendiri, terutama produk dari warga Nahdliyyin, dan agar kembali ke model perekonomian lama yang merakyat yakni model koprasi,? kata Kiai Suharbillah.

Para pendekar IPS-NU Pagar Nusa tidak hendak ambisius ingin menyelesaikan problem Nusantara yang semakin edan ini secara cepat dan revolusioner, namun secara pasti mengambil perannya sendiri. ?Dalam soal kenaikan BBM kami tidak ingin memihak sana-sini. Kami hanya bertugas agar konflik yang terjadi akibat kenaikan BBM tidak semakin parah,? kata Kiai Suharbillah. Semoga bisa.

(a khoirul anam)

APA ITU PAGAR NUSA ?

Nama lengkap organisasi ini adalah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama' Pagar Nusa disingkat IPSNU Pagar Nusa. Sedangkan Pagar Nusa sendiri merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa.
IPSNU Pagar Nusa adalah satu - satunya wadah yang sah bagi organisasi pancak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama' berdasarkan keputusan Muktamar.
Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama' yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga - lembaga NU lainnya.
Status resmi kelembagaan inilah yang menjadikan Pagar Nusa wajib dilestarikan dan dikembangkan oleh seluruh warga NU dengan mengecualikan pencak silat atau beladiri lainnya.
Segala kegiatan yang berhubungan dengan pencak silat dan beladiri dengan segenap aspeknya dari fisik sampai mental, dari pendidikan sampai sistem pengamanan dan lain - lain merupakan bidang garapan bagi lembaga ini.

VISI DAN MISI

Pagar Nusa ber-Aqidah ala Ahlussunnah wal Jama'ah dengan asas organisasi Pancasila. Pagar Nusa mengusahakan :
Berlakunya Ajaran Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah di tengah-tengah kehidupan negar kesatuan Repubil Indonesia yang ber-Pancasila.
Pelestarian, pembinaan, dan pengembangan pencak silat baik seni, beladiri, mental spiritual, maupun olahraga / kesehatan khususnya di lingkungan NU maupun di lingkungan warga bangsa lain pada umumnya.

ANGGOTA
Keanggotaan diatur dalam Peraturan Dasar dengan kriteria mudah yaitu warga Nahdlatul Ulama' :
Mulai kanak - kanak sampai sesepuh ( batasan usia )
Dari yang belum mengenal pencak silat sampai yang mahir ( batasan kemampuan )
Sistem penjenjangan anggota dll, disesuaikan dengan kemampuan, usia, dan kebutuhan

MATERI PENCAK SILAT
Materi Pencak Silat Pagar Nusa Bakudi susun oleh tim yang terdiri dari dewan dan sumber lain dari berbagai aliran asli dari seluruh Indonesia seperti Cimande, Cikaret, Cikampek, Cikalong, Minang, Mandar, Mataram, dll. secara sistematis dengan metode modern.
Penyusunan jurus baku, baik fisik maupun non fisik dilakukan secara bertahap, memakan waktu bertahun - tahun dan sampai kini masih dilakukan penggalian - penggalian untuk paket selanjutnya.
Materi baku telah dilengkapi Buku Panduan bergambar, Kaset, dan VCD, dapat dibeli di bagian perlengkapan pusat.

FISIK BAKU
Gerak Dasar
Paket Kanak - kanak ( setingkat TK )
Paket I A & B ( setingkat SD )
Paket II A & B ( setingkat SMP )
Paket III A & B ( setingkat SMU )
Paket Beladiri ( setingkat perguruan tinggi )
Pencapaian jurus fisik baku menjadi tolak ukur tingkatan sebagai jenjang latihan. Warna Dasar Badge pada sabuk tingkatan menyesuaikan dengan penjenjangan tersebut.
Pendalaman = Seni Festival, Lomba, dll.
= Beladiri Terapan, Keamanan, dll.
= Olahraga Pertandingan, Senam Massal, dll.
= Kesehatan Pijat, Pernafasan, Obat, dll.
= Dan Lain - Lain.

NON FISIK BAKU
Ijazah
Jurus Asma'ul Husna
Jurus Taqorrub
Pendalaman = Pengisian Badan Langsung / Instan
Pengisian Bertahap Sesuai Jurus
Pengisian Barang
Pengobatan Non Fisik
Atraksi
Do'a
dll.

MANFAAT
Bergabung dengan Pagar Nusa bermanfaat, baik sosio kultural, edukatif maupun personal.

PERANGKAT LPS NU PAGAR NUSA

Disamping Struktur kepengurusan, Pagar Nusa memiliki perangkat organisasi yang dibentuk hanya ditingkat pusat sbb :

DEWAN BESAR GURU KHOS
Yaitu Ulama - Ulama Sepuh yang sangat mumpuni baik lahir maupun batin yang menjadi rujukan terakhir bagi keputusan - keputusan penting dan merupakan back up utama LPSNU
Dewan Besar Guru Khos antara lain :

KH. ABDULLAH FAQIH KH. HABIB JAKFAR
KH. ABDULLAH ABBAS KH. M.A. FU'AD HASYIM
KH. HABIB LUTFI KH. MUSLIMIN IMAM PURO
KH. SUFYAN KH. KHOTIB UMAR
KH. MASDUQI MAHFUDZ

DEWAN GURU KHOS
Dewan ini terdiri dari Ulama - Ulama Sepuh yang sangat mumpuni baik lahir maupun batin yang menjadi sumber secara langsung dalam memberi masukan bagi kemajuan dan kesuksesan LPSNU Pagar Nusa.
Dewan Guru Khos antara lain :

KH. R. KHOLIL AS'AD KH. SYAIFUL ISLAM
KH. AGUS HALIM KH. SA'DAN MAFTUCH
KH. ALY MASHURI KH. ROFI'I
KH. ABDULLAH KH. SU'UD IBRAHIM
KH. AGUS BUSTOMI KH. NURKHOLIS

DEWAN KHOS
Dewan ini merupakan motor penggerak dan dapur organisasi yang menggali, menggodok dan merumuskan segala hal yang berkaitan dengan pencak silat dan beladiri untuk kemudian disosialisasikan di tingkat kepengurusan dan operasional.
Dewan ini juga merupakan back up langsung jembatan penghubung antara orang - orang khusus ( khos ) dengan kepengurusansecara operasional.
Dewan Khos antara lain :

PROF. DR. H. SUHAR BILLAH, SH.MBA KH. IMAM FAUZI
DRS. H. HUSNAN SANUSI DRS. SUNOTO
H. TIMBUL WIJAYA ZAINAL SUWARI
KH. KHOIRUL ANAM DRS. MAHSUN
KH. SU'UDI BAGIYONO
H. AFANDI MAS'UD MUJAHIDIN

PASUKAN KHOS

Adalah orang - orang khusus yang memiliki keahlian tertentu yang terjun langsung di lapangan.

PASUKAN INTI / PASTI

Pasukan ini dibentuk dengan kualifikasi tertentu guna memenuhi kebutuhan dalam kaitannya dengan keorganisasian dan kemasyarakatan

PERKEMBANGAN, POTENSI DAN PRESTASI

PERKEMBANGAN DAN POTENSI
Sejak LPSNU Pagar Nusa berdiri 3 Januari 1986, organisasi ini mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Oraganisasi yang pertama kali berdiri berbentuk perguruan ini setelah beberapa kali melakukan Musyawarah Nasional dan Rakernas mengalami perubahan status sebagai Lembaga, lalu menjadi Badan Otonom kemudian kembali ke Lembaga lagi sesuai amanat Muktamar di masanya.
Perubahan dan perkembangan tersebut tidak mengurangi bahkan menambah potensi Pagar Nusa di NU yang memang sangat kaya akan budaya pencak silat dan yang berkaitan dengan itu.
Wilayah yang sudah terbentuk meliputi seluruh Indonesia sbb :
Batam : Sudah berdiri sebagai Komisariat atas Daerah Otorita
Sumatra : Seluruh Sumatra kecuali Aceh
Jawa : Seluruh Jawa, kecuali Jawa Barat tetapi di tingkat cabang
seperti Cirebon, Bandung dll sudah ada
Bali : Seluruh daerah sudah ada
NTB : Seluruhnya
Kalimantan : Seluruh Kalimantan
Sulawesi : Baru di Sulawesi Utara dan SulawesiTenggara
Irian Jaya : Sudah beberapa daerah.
Wilayah lain yang belum terbentuk adalah Maluku dan NTT

PRESTASI

Disamping selalu melaksanakan kegiatan rutin dan khusus yang berkaitandengan tugas - tugas ke-NU-an maupun tugas keluar / kemasyarakatan organisasi pencak silat ini telah berhasil menempatkan putra terbaiknya di Organisasi Pencak Silat Induk Nasional / Internasional, Perguruan Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) dan Perserikatan Silat Antara Bangsa (PERSILAT) antara lain :

Pendamping Tim Pencak Silat di Selangor Malaysia
Beberapa Wasit Juri Nasional Pertandingan sampai sekarang
Beberapa Wasit Juri Nasional Bidang Pencak Silat Tradisi
Sebagai Dewan Pakar PB IPSI
LPSNU Pagar Nusa termasuk Lima Perguruan Besar di Indonesia yang berhak atas event Pencak Silat Internasional Bidang Tradisi.
Penampil sangat monumental pada Parade Pencak Silat Internasional di Denpasar, Bali.

SIMBOL DAN ARTI
LAMBANG PAGAR NUSA Simbol LPS Pagar Nusa berupa gambar Pita bertulisan LAA GHAALIBA ILLA BILLAH yang melingkupi bola dunia di dalam kurva segi lima dengan beberapa atribut dan perincian sebagai berikut :
Kurva segi lima merupakan simbolisasi dari Syari�at Islam yang mempunyai lima rukun dan merupakan simbolisasi pada adanya rasa kecintaan kepada bangsa dan negara yang berpancasila.

Simbolisasi ini berangkat dari dasar pengertian rukun Islam yang Nabi SAW sampaikan :
Islam itu didirika atas lima : Bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah bagi yang mampu, dan puasa Ramadhan? ( HR Bukhory )

Tiga garis tepi yang sejajar dengan garis kurva merupakan lambang dari tiga pola utama yang berjalan bersama dalam cara hidup warga Nahdlatul Ulama yaitu Iman, Islam, Ihsan sebagaimana Hadits Nabi SAW? ketika ditanya oleh Malakat Jibril.

Bintang sudut lima sebanyak sembilan buah dengan pola melingkar di atas bola bumi dan pada bagian paling atas bintangnya tampak lebih besar ini merupakan ekspresi dari pola kepemimpinan wali songo dan juga idealisasi dari suatu cita-cita yang bersifat maksimal karena selain bintang merupakan simbol kemuliaan juga jumlah sembilan merupakan angka tertinggi. Ini sesuai dengan mimpi Nabi Yusuf tentang bintang sebagai isyarat akan mencapai kemuliaan.

Firman Allah SWT :
Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : Wahai ayahku sesungguhnya aku bemimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan ; kulihat semuanya sujud kepadaku. ( QS.Yusuf : 4)
Bintang terbesar mengisyaratkan adanya pola kepemimpinan yang dalam Islam merupakan suatu keharusan.
Gambar cabang / trisula terletak ditengah bola dunia bagian atas tepat dibawah bintang terbesar merupakan manifestasi kenyataan historis bahwa senjata jenis inilah yang tertua dan lebih luas penyebarannya di bumi nusantara. Sebagai kelompok beladiri pencak silat anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia ( IPSI ), Pagar Nusa memasukkan simbol tersebut supaya tidak tercerabut dari identitas persatuan beladiri asli Indonesia. Sebagaimana kita maklumi bersama :
Barang siapa memisahkan diri dari kelompok dimakan srigala

Bola Dunia / gambar bumi tepat di tengah merupakan ciri khas dari organisasi underbow Nahdlatul Ulama yang simbol utamanya berupa bumi dan tampar sebagaimana di lukiskan oleh tangan pertamanya KH. RIDWAN ABDULLAH berdasar Istikharahnya.

Pita melingkupi bumi dengan tulisan LAA GHAALIBA ILLAA BILLAH

Yang berarti tidak ada yang menang ( mengalahkan ) kecuali dengan pertolongan Allah merupakan tata nilai beladiri khas Pagar Nusa. Kalimat ini pada awal pembentukannya berbunyi
LAA GHAALIBA ILLALLAH kemudian oleh K.H. Sansuri Badawi dianjurkan untuk diberi tambahan ba sehingga berbunyi seperti sekarang. Hal ini sesuai dengan pola kalimat pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH yang bekonotasi umum ( am ) bagi segala bidang kehidupan.

Sedangkan secara khusus ( khas ) dengan mengambil tibar bahwa dalam Al-Quran kegiatan-kegiatan yang melibatkan beladiri secara fisik maupun non fisik banyak disebut dengan menggunakan kalimat yang berasal dari akar kata ghalaba, maka Pagar Nusa menggunakan kalimat sebagaimana tercantum dalam simbol

Firman Allah : Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu ( QS. Ali Imron : 160 )
Orang orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata : berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah ( QS. Al-Baqarah : 249 )
Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang -orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut ( agama ) Allah itulah yang pasti menang. ( QS. Al-Maa-idah : 56 ).

Warna Hijau dan putih merupakan dua warna yang secara universal mengandung makna baik. Sebab segala yang bersih dan suci baik secara materiil ( fisik ) maupun immateriil ( non fisik ) dapat? disimbolkan dengan warna putih. Sedangkan hal-hal yang bersifat sejuk, subur, makmur, tenang, enak dipandang dan lain-lain yang membahagiakan selalu dapat disimbolkan dengan warna hijau.

Warna Putih merupakan warna wajah cerah bagi orang-orang yang memperoleh kebahagiaan? di akhirat.
Warna hijau merupakan warna ahli sorga yang merupakan tempat kebahagiaan manusia, sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT. :

Mereka itulah bagi mereka surga , megalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. ( QS.Kahfi : 31).

Dengan demikian kombinasi warna itu merupakan kombinasi warna yang mengidolakan pemandangan di Surga kelak.
Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. ( QS Al-Insan 21 )

Sumber tulisan :
- www.nu.or.id
- Sumber lainnya
- Team silat
Share:

Tinju Sambuik Sapuluah, "Kitab Silat" Tuanku Imam Bonjol yang Terlupakan



Dalam sejarahnya, Tuanku Imam Bonjol melatih 5.000 pemuda Bonjol menjadi pesilat tangguh. 400 orang di antaranya malah merupakan pengawal pribadi.

Tak heran, Tuanku Imam punya aliran silat sendiri. Namanya, Tinju Sambuik Sapuluah.

�Ini merupakan silat turun temurun dari Doman Rajo Mau. Ia mendapatkan ilmu silat ini dari pengikut setia Tuanku Imam Bonjol yang ditangkap Belanda dan di penjara,� ujar Pelatih dari Silat Tinju Sambuik Sapuluah, Hendri Jasril Kari Jolelo pada ranahberita.com, Minggu (24/8/14).

Silat ini menggunakan langkah tiga. Dengan filosofi �suruik salangkah ba arti manang, maju salangkah ba arti kalah� (mundur selangkah berarti menang, maju selangkah berarti kalah). Saat ini, ia mengajarkan di hampir seluruh daerah Bonjol, Pasaman.

Dari data dan wawancara yang dihimpun ranahberita.com, tidak diketahui kapan dan di mana Tuanku Imam mempejari silat. Tapi, tak diragukan, ia banyak memiliki pengawal dan pengikut setia setelah menjadi pemimpin Bonjol.

Tuanku bukan orang pelit. Ia menurunkan jurusnya pada siapa saja yang mau belajar. Di antara yang jadi muridnya adalah dua dari pimpinan Barampek Selo Bonjol. Tuanku Gapuak berasal dari Bonjol dan Tuanku Keluat yang berasal dari Agam yang merupakan kemenakan dari Tuanku Nan Receh. Ada juga panglima pasukan seperti Tuanku Limau Manih dari Palupuah dan Bagindo Tan Labiah (Tan Lobe).

Malang nasib Bagindo Tan Labiah. Ia tertangkap Belanda. Beliau dipenjarakan di Padang. Semasa di penjara, ia bertemu tahanan bernama Ajo Paman berasal dari Pariaman.

Singkat cerita, Ajo diangkat sebagai murid. Setelah sekian lama dipenjara, Tan Lobe dipindahkan ke Manado pada 1840. Di Manado, Bagindo mengembangkan ilmu silatnya dan mengajarkan pada napi dan masyarakat yang ada. Di Manado, Silek Tinju Sambuik Sapuluah terkenal �dengan nama silek cakak atau silek baginda. Pada 1888, beliau meninggal dunia di sana.

Di Minangkabau, sebelum dibebaskan Belanda, Ajo mengangkat Upeh (Opas, sebutan untuk penjaga penjara masa Belanda yang berasal dari pribumi) Doman Rajo Mau sebagai murid. Dari sinilah ilmu silat itu kembali ke Pasaman.

Doman merupakan pribumi asli Nagari Ganggo Hilia dalam daerah Kampuang Dalam, Pasaman. �Setelah dibebastugaskan sebagai Upeh, Doman menurunkan Jurus Tinju� pada anak kandungnya, Abdul Aziz Sutan Sinaro dan kemenakannya Manan Rajo Mau.

Muridnya yang lain, Sutan Saidi Rasiak berasal dari Padang Laweh, Nawi dari Padang Baru Ganggo Hilia serta Buduik Sarumpun berasal Kampuang Baru Ganggo Mudiak.

Murid Doman, lalu menyebar ke berbagai daerah. Sutan Saidi pernah pergi ke Kedah, negara bagian Malaysia. Di sana ia mengikuti pertandingan silat melawan Raja Cina dan menang

Sutan menurunkan ilmu silat ke beberapa orang murid. Setelah merasa muridnya menguasai segala gerak, Sutan kembali ke Bonjol.

Sedangkan Rasiak mengembangkan ilmunya di Kampung Baru Ganggo Mudiak. Buduik Sarumpun ke Kampung Koto Ganggo Hilia. Sedangkan Manan, pergi merantau dan mengembangkan ilmu silatnya di Kampung Pisang, Medan.

Muridnya yang lain, Sutan Sinaro menurunkan ilmu itu pada anaknya� yang bernama Muhammad Sahen Kari Jolelo dan Abdul Murat Kari Mudo.

Kari Jolelo menyebarkan di Padang Bubuih sampai ke Tanjung Bungo. Sementara Kari Mudo dan Amri Sutan Pamenan sampai saat ini masih mengembangkan silek di Ganggo Hilia�dan Ganggo Mudiak.

Kari Jolelo pulang ke kampung halaman dan membuka sasaran. Sekarang, anaknya, Hendri yang meneruskan.

Saat ini ada 50 murid yang sedang belajar ilmu silat ini. Kami bersyukur, ilmu silat ini menjadi kegiatan ektra kulikuler di SMPN 01 Bonjol. Kami latihan setiap Jumat sore,� jelas Hendri.

Aliran ini masuk dalam Perguruan Pencak Silat Tradisional Torpedo Bonjol, yang beralamat di Pasar Equator, Jorong Kampung Alai, Ganggo Mudiak Kecamatan Bonjol, Pasaman.



Tuangku Imam Bonjol

sumber:
RanahBerita
Share:

Belajar Silat Berarti Belajar untuk Mengendalikan Diri Sendiri



oleh: Gede Agus Bramanta, 24, Mataram

( Juara Harapan Lomba Penulisan Artikel Silat )

Silat sudah cukup dikenal di masyarakat Indonesia. Mendengar kata �silat� pastinya identik dengan figur jagoan. Langsung terbayang mengenai pertarungan kemudian ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tapi benarkah hanya seperti itu? Ternyata tidak. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari ilmu silat. Tidak hanya jurus-jurus hebat atau teknik-teknik bertarung yang membuat kita mampu membela diri dan bisa menjadi jagoan. Belajar silat tidak hanya sekedar belajar memukul, menendang, menangkis ataupun mempertahankan diri dari lawan.

Semua ilmu bela diri yang baik tentunya menuntun kita untuk berada di jalan kebenaran dalam menerapkan ilmu yang telah kita dapatkan. Silat pun demikian. Selain latihan fisik, ilmu silat mengajarkan kita banyak nilai-nilai luhur dan kebaikan, salah satunya adalah pengendalian diri. Pengendalian diri sangatlah penting dimiliki oleh setiap individu. Pengendalian diri membuat setiap orang berpikir dengan akal sehat dalam menghadapi sesuatu. Ketika seseorang mampu mengendalikan emosinya, tentu kesulitan ataupun hal-hal buruk yang sedang dihadapinya akan tersikapi dengan hati yang tenang. Dalam keadaan tenang tersebut, jalan keluar dalam suatu masalah akan mudah untuk didapat.

Kembali lagi tentang silat yang mengajarkan kita untuk lebih mengendalikan diri. Orang-orang pastinya ada yang bertanya. Bagaimana bisa? Apa hubungannya? Bagaimana caranya? Memangnya bisa? Dan masih ada banyak pertanyaan lagi bagi mereka yang memang belum pernah belajar silat dan merasakan manfaatnya. Secara tidak disadari, belajar bela diri tidak hanya untuk melatih fisik, melatih kekuatan, ketahanan, keseimbangan, ataupun ketangkasan kita. Namun, berlatih ilmu bela diri, dalam hal ini berlatih silat, juga membantu melatih jiwa dan pribadi kita. Hal tersebut juga sangat penting sehingga membuat kita kuat secara fisik dan jiwa.

Sesuatu yang baru dipelajari pastinya butuh kesabaran dan ketekunan agar segera berhasil. Belajar silat pun, pada awalnya harus dengan niat yang baik. Kadang orang berpikir belajar silat sepertinya berat dan sulit. Tapi bagi mereka yang sudah berniat, apalagi memang dengan niat yang baik, tentunya semua akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. Secara teknis, mengawali belajar ilmu silat adalah diajarkannya prinsip dan nilai luhur silat. Masing-masing pengajar ilmu silat pasti akan memberikan hal tersebut terlebih dahulu agar murid-murid yang belajar nantinya benar-benar punya tujuan yang baik.

Dari memperkenalkan dan memberi pengantar tentang silat, kita akan mulai diajarkan teknik-teknik yang mendasar dari geakan-gerakan yang sederhana. Dalam istilah ilmu silat, sering kita kenal dengan istilah jurus-jurus silat. Pengajar silat mengajarkan kita dari jurus-jurus yang mudah dulu. Itupun kita harus mantap dulu pada suatu tingkatan, baru bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Dari situlah sebenarnya secara tidak langsung, kita sudah dilatih dan belajar untuk mengendalikan diri. Kenapa? Coba kita berpikir sejenak. Yang namanya belajar, pastinya butuh waktu. Butuh kesabaran untuk melakukan segalanya hingga benar-benar bisa dan berhasil. Belajar ilmu bela diri, dalam hal ini belajar silat, tentunya perlu rutinitas yang teratur dan disiplin. Kita berlatih, tentunya tidak mungkin langsung bisa, terlebih lagi jika kita memang benar-benar baru pertama kali mengikuti pembelajaran ilmu bela diri silat.

Hari pertama kita akan dikenalkan dengan dunia silat secara umum. Selanjutnya kita mulai diajarkan jurus-jurus. Memukul, menandang ataupun bertahan. Hari berikutnya, jika kita masih belum mampu menguasai yang diajarkan, maka akan terus dilatih berulang-ulang hingga kita bisa. Di situlah letak pengandalian diri kita dibentuk. Kesabaran kita diuji, emosi dan egois kita yang ingin cepat bisa juga diuji. Tidak semua orang akan tahan dengan rutinitas yang sama dan monoton. Ketika kita belajar silat dan harus mengulangi jurus-jurus yang sama karena kita memang belum mahir hingga beberapa kali latihan, pastinya ada perasaan bosan. Kadang kalau sudah suntuk, pastinya jadi kesal, marah, protes bahkan berhenti belajar. Namun, orang yang benar-benar tekun dan mengerti makna belajar ilmu bela diri, dalam hal ini silat, pasti akan memilih sabar dan tetap berlatih. Berusaha sabar inilah yang mengajarkan kita mengandalikan diri. Kita akan terlatih untuk tetap fokus, mengendalikan egois kita yang ingin segera jadi hebat tanpa menghiraukan proses belajar yang sebenarnya.

Ketika kita terus berlatih dan berlatih tanpa ada perasaan yang emosional, silat akan menjadi menyenangkan. Dengan pikiran tenang dan hati yang bersih, silat akan membantu kita menjadi kuat secara fisik dan mental. Walaupun belajar silat prosesnya panjang, jika direnungi dengan baik maka proses itulah yang mengajarkan kita banyak hal.

Selain kesabaran dalam mempelajarinya, dalam silat kita juga diajarkan untuk bertarung dengan hati yang bersih. Jadi, terhadap lawan pun harus mengasihi. Lagi-lagi pelajaran pengendalian diri kita dapatkan disini. Ketika kita sudah mampu menguasai jurus-jurus hebat silat, kita selalu diingatkan oleh pengajar supaya tidak sombong dan tidak pamer sehingga terkesan sok jagoan. Ilmu silat kita dapatkan hendaknya di gunakan dengan bijak. Ketika berkelahi, kebanyakan orang pastinya menganggap lawan adalah satu-satunya yang menjadi fokus. Bagi orang yang mengandalkan emosi, dalam pikiran yang ada hanyalah keinginan untuk mengalahkan lawan, menumbangkannya dan akhirnya kita menang mutlak. Kebanyakan kejadian seperti itulah yang kita ketahui kalau sedang terjadi perkelahian. Silat memang mengajarkan kita untuk melindungi diri. Kita dibekali dengan jurus-jurus untuk bertahan bahkan melawan orang-orang jahat. Tapi, ilmu silat juga mengajarkan kita untuk menghadapi perkelahian dengan tenang. Pastinya pangajar silat yang baik akan mengajarkan muridnya untuk tetap berpikir bijak dalam menghadapi masalah atau situasi buruk apapun yang ada di depan mata.

Dengan terbiasa belajar ilmu bela diri, dalam hal ini silat, kita tidak akan gegabah langsung berkelahi dengan musuh. Kita diajar untuk sabar, berbicara dengan kepala dingin karena siapa tahu situasi yang buruk tersebut dapat terselesaikan dengan baik. Bahkan, bisa saja perkelahian tidak akan terjadi. Jurus-jurus silat yang diajarkan pada kita tentunya harus digunakan jika memang dalam keadaan yang sangat terdesak. Ilmu bela diri, termasuk silat, pastinya mengajarkan kita untuk bisa mengendalikan emosi kita ketika sedang ada dalam situasi perkelahian. Kalau masih bisa dibicarakan baik-baik, tentunya tidak perlu sampai harus berkelahi. Kalau pun terpaksa berkelahi, kita yang seandainya sudah belajar silat, pastinya akan bertarung seperluny. Dalam hal ini bertarung bukan untuk mengalahkan lawan tapi menyadarkan lawan. Tidak ada gunanya kekerasan.

Bisa kita ketahui dengan jelas bahwa belajar ilmu bela diri, dalam hal ini belajar silat, berarti kita juga belajar untuk mengendalikan diri. Kita jadi terbantu untuk mengahadapi situasi apapun dengan pikiran tenang dan tidak hanya mengikuti emosi dan nafsu kita. Terkait dengan peran kita di dalam kehidupan, baik sebagai individu maupun manusia yang punya hubungan dengan lingkungan sekitar kita, belajar ilmu silat juga sangat membantu untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang baik. Misalnya, jika kita sebagai pelajar. Bisa dibayangkan bagaimana dunia pelajar sekarang ini. Energik dan dinamis. Banyak hal yang dilalui. Mulai dari kegiatan rutin belajar di sekolah yang terkadang membuat jenuh otak. Belum lagi pergaulan yang ada. Kadang bisa banyak memiliki teman, tapi kadang selisih paham bisa terjadi hanya karena lonjakan emosi dan diri yang labil. Kalau sudah begitu, yang namanya saling bertengkar ataupun saling menyalahkan pasti mudah sekali terjadi. Untuk melewati itu semua, alangkah baiknya jika kita mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat membantu dan melatih diri kita agar lebih sabar. Berlatih silat tentunya bisa dijadikan salah satu pilihan.

Belajar silat bisa diikuti oleh semua kalangan. Bahkan orang dewasa yang punya tingkat stres lebih tinggi dari pada pelajar, seperti yang dicontohkan sebelumnya, sangatlah baik jika mau berlatih silat. Dunia kerja pastinya lebih keras. Atasan yang menyebalkan ataupun rekanan kerja yang kadang tidak sejalan, semua itu adalah hal yang sering terjadi di dunia kerja saat ini. Untuk melewati itu semua, tentunya perlu kegiatan yang dapat membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang bijak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dengan belajar silat tidak hanya untuk melindungi diri, tapi juga kita diajarkan untuk lebih bisa menahan emosi. Sehingga serumit atau seberat apapun suatu keadaan, kita akan tenang menghadapinya.

Dari uraian-uraian yang sudah terpaparkan, jelas menunjukkan bahwa silat tidak hanya sekedar pukulan, tendangan, pertahanan, ataupun jurus-jurus hebat. Ada yang lebih penting dan lebih bermakna dari itu. Belajar silat berarti kita juga belajar untuk mengendalikan diri kita sendiri. Belajar silat berarti mengajarkan kita juga untuk tidak egois dan harus bisa mengendalikan emosi. Jadi, jangan pikir belajar silat hanya untuk menjadi jagoan hebat, tapi juga menjadi jagoan yang bijaksana.
Share:

Cari

Pencak Silat In Action

Pencak Silat In Action
Pencak Silat In Action
Adsense Indonesia
Adsense Indonesia
Pasang Iklan 125x125
Pasang Iklan 125x125

Cari Blog Ini

 
Pencak Silat Blog | Introduction to Silat Indonesia | History of Silat: Sahabat Silat