Pencak Silat Blog adalah blog yang secara khusus berusaha untuk mengenalkan Pencak Silat sebagai warisan luhur nusantara khususnya Indonesia agar lebih dikenal dunia

Tampilkan postingan dengan label Silat Sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silat Sunda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Januari 2018

Silat Sunda Jaman Kerajaan Sunda Pajajaran | Dua Puluh Strategi Perang Sunda Abad Ke-16


BAGAIMANA strategi orang Sunda dulu berperang, belum banyak dibahas. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian hanya menyebutkan nama-nama strategi perang yang diterapkan paling tidak sampai abad ke-16.

Dalam Sanghyang Siksakandang Karesian disebutkan, "Bila ingin tahu tentang perilaku perang, seperti makarabihwa, katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, sucimuka, brajapanjara, asumaliput, meraksimpir, gagaksangkur, luwakmaturut, kidangsumeka, babahbuhaya, ngalinggamanik, lemahmrewasa, adipati, prebusakti, pakeprajurit, tapaksawetrik, tanyalah panglima perang." (Saleh Danasasmita, dkk., 1987).

Tulisan ini mencoba mendeskripsikan strategi perang dimaksud. Mudah-mudahan bisa jadi bahan kajian yang lebih mendalam untuk berbagai pemanfaatan.

1. Makarabihwa.
Cara mengalahkan musuh dengan tidak berperang. Mengalahkan musuh dari dalam musuh itu sendiri, dengan menggunakan kekuatan pengaruh. Praktik merusak kekuatan musuh dari dalam agar merasa kalah sebelum berperang.

2. Katrabihwa.
Posisi prajurit saat menyerang musuh, ada yang ditempatkan di atas, biasanya dengan menggunakan senjata panah, dan prajurit yang di bawah, biasanya menggunakan tombak dan berkuda.

3. Lisangbihwa.
Sebelum perang dimulai, Panglima Perang/Hulu Jurit mengumpulkan pasukan tempurnya agar seluruh prajurit berteguh hati menjadi pasukan yang berani dan bersemangat berperang untuk mengalahkan musuh walaupun kekuatan lebih kecil.

4. Singhabihwa.
Mengalahkan pertahanan musuh dengan cara menyusup. Para penyusup merupakan tim kecil yang jumlahnya hanya lima orang, terdiri atas ahli perang, ahli strategi, dan ahli memengaruhi musuh. Musuh terpengaruh oleh strategi yang kita lancarkan sehingga pada tahap ini musuh hancur oleh pikirannya sendiri. Waktunya sangat lama.

5. Garudabihwa.
Memusatkan kekuatan pasukan pada posisi yang tersebar di beberapa titik penting yang telah ditentukan untuk pertempuran. Kekuatan di setiap titik jumlahnya 20 orang. Dengan simbol-simbol khusus, prajurit yang tersebar itu akan menyerang secara berbarengan dan sekaligus, kemudian menyebar kembali untuk mempersiapkan penyerangan berikutnya.

6. Cakrabihwa.
enyusupkan beberapa orang prajurit ke benteng pertahanan musuh dengan cara rahasia dengan tujuan utama untuk menyusupkan persenjataan yang kelak akan digunakan oleh pasukan saat bertempur. Mereka harus prajurit yang sangat terlatih dan mengetahui medan, serta mengetahui cara-cara penyusupan.

7. Sucimuka.
Upaya pembersihan musuh setelah perang usai sebab biasanya masih ada musuh yang berdiam di persembunyian. Para prajurit harus mengetahui daerah-daerah yang pantas digunakan sebagai tempat berlindung dan menjadi persembunyian musuh yang sudah tercerai-berai. Prajurit harus mengetahui jalan-jalan yang dijadikan tempat untuk meloloskan diri. Pembersihan ini sangat penting agar musuh tidak menghimpun kekuatannya kembali.

8. Brajapanjara.
Mendidik beberapa orang musuh agar bekerja untuk pihak kita. Setelah dianggap tidak membahayakan, mereka dilepas kembali ke daerahnya untuk dijadikan mata-mata. Orang itulah yang akan mengirimkan informasi mengenai kekuatan musuh, seperti jenis dan jumlah senjata yang mereka miliki, dan strategi perang apa yang akan digunakan. Harus sangat hati-hati saat mendidiknya.

9. Asumaliput.
Setiap prajurit harus mengetahui tempat berlindung atau bersembunyi serta tidak akan diketahui musuh, seperti di dalam gua, tetapi harus pandai melihat situasi.

10. Meraksimpir.
Cara berperang ketika prajurit berada di daerah yang lebih rendah, sedangkan musuh berada di daerah yang lebih tinggi. Bila posisinya demikian, pasukan dipersenjatai dengan tombak dan berkuda.



11. Gagaksangkur.
Cara berperang ketika prajurit berada di daerah yang lebih tinggi, sedangkan musuh berada di bawah. Cara mengalahkan musuh dari atas, seperti cara meloncat atau menghadang.

12. Luwakmaturut.
Gerakan untuk memburu musuh yang kabur dari lapangan pertempuran. Prajurit harus tahu cara pengejaran yang paling cepat di berbagai medan yang berbeda. Pengejaran musuh harus sampai di tempat persembunyiannya, apakah di air, atau yang lari ke dalam hutan.

13. Kudangsumeka.
Cara menggunakan pedang yang lebih kecil. Bila menyusup ke daerah musuh, prajurit harus mengetahui cara-cara menyembunyikan pedang/senjata itu agar tidak diketahui musuh.

14. Babahbuhaya.
Cara menghimpun kekuatan prajurit pada saat pasukan tertekan dan terjepit musuh, seperti cara/upaya memulihkan mental, semangat, dan kekuatan prajurit. Dilatihkan ke mana harus berlari, jangan sampai berlari ke daerah kekuatan musuh. Cara bagaimana bila saat berlari ada musuh di depan, atau musuh yang terus mengejar, serta cara bagaimana memilih tempat perlindungan. Bila terlihat aman, prajurit merundingkan upaya penyelamatan dan merencanakan penyerangan balik.

15. Ngalinggamanik.
Prajurit yang sudah terlatih dipersenjatai dengan senjata rahasia, atau senjata keramat kerajaan, seperti tombak. Prajurit dilatih untuk mengendalikan senjata keramat itu, bila tidak, bisa-bisa prajurit itu yang terpental atau pingsan.

16. Lemahmrewasa.
Cara berperang di hutan belantara atau di tempat-tempat yang rimbun, terutama ketika pasukan dalam keadaan terdesak dengan senjata pasukan yang sudah tidak mampu melayani kekuatan persenjataan musuh. Semua potensi yang bisa digunakan sebagai senjata dimanfaatkan, seperti batu atau batang pohon.

17. Adipati.
Teknik untuk melatih prajurit yang akan dijadikan prajurit dengan kemampuan khusus. Pasukan komando yang mempunyai kemampuan perseorangan yang tangguh dan dapat diandalkan.

18. Prebusakti.
Setiap prajurit dibekali latihan keahlian khusus seperti tenaga dalam agar senjata lebih berisi, lebih matih, punya kekuatan mengalahkan musuh secara luar biasa.

19. Pakeprajurit.
Sering kali raja menitahkan untuk tidak berperang. Prajurit terpilih, yaitu prajurit yang sudah terlatih untuk berunding, mengadakan perundingan-perindingan sehingga musuh dapat dikalahkan tanpa berperang. Namun, Panglima Perang/Sang Hulu Jurit, sesungguhnya menghendaki kemenangan dengan cara berperang.

20. Tapaksawetrik.
Cara-cara berperang di air. Bagaimana cara mengelabui musuh agar tidak mengetahui pergerakan prajurit, serta cara-cara menggunakan senjata di air, seperti di sungai. Prajurit harus terlatih untuk mendekati musuh melalui jalan air.

Senjata
Persenjataan yang digunakan dalam perang pada zaman itu pada umumnya sudah berupa senjata dari logam, apakah itu tombak ataupun pedang. Peninggalan senjata yang ditemukan di beberapa tempat di Jawa Barat, masih dapat dilihat di Museum Nasional di Jakarta (Lihat Dr. N.J. Krom, Laporan Kepurbakalaan Jawa Barat 1914). Sementara itu, kendaraan yang digunakan saat bertempur pada umumnya adalah kuda.
Tulisan ini merupakan upaya pendahuluan untuk mengetahui deskripsi dari setiap istilah strategi perang yang terdapat dalam Sanghyang Siksakandang Karesian. Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam berbagai keperluan, seperti manajemen dan kepemimpinan.***

T. BACHTIAR
Alumnus Suscados Lemhanas angkatan XIII - 1985, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Sumber: sahabatsilat.com
Share:

Akar Sejarah Silat Sunda


Sejauh ini akar Pencak Silat secara umum belum dapat diketahui, baik itu mulai kapan keberadaannya ataupun penamaannya.

Dari beberapa referensi yang ada kemungkinan baru silat Minang, Jawa dan Silat Sunda saja yang agak sedikit  jelas tertera melalui manuskrip,  artefak atau relief candi meskipun masih blur keterangan mengenai namanya pada waktu itu.

Khusus silat Sunda, ditemukan beberapa manuskrip yang menunjukkan ke arah itu, salah satunya Sanghyang Sikshakandha Ng Karesiyan yang agak gamblang membabarkannya dalam satu kidung tentang perang.

Dalam Palagan Bubat tertera 7 penca, dalam Soepandi & Atmadibrata 1977:45 dituliskan dalam bahasa sunda kiwari (masa kini) saduran dari Hoen 1878:99 :


Puluh-puluh rombongan heunteu kaitungTujuh rupa penca, anu ulin pakarang baeLain deui bangsa, serimpi bedaya
Puluh-puluh rombongan tidak terhitung,Tujuh rupa penca,  yang memainkan senjataBerbeda lagi bangsa, serimpi bedaya.

Ket:
Puluh-puluh disini bukan berarti banyak orang, melainkan hanya 23 orang Pajajaran yang terdiri dari dari 20 pembesar kerajaan (terdiri dari 11 pengawal raja & keluarganya, 9 dayang-dayang pengiring penganten dan nayaga), Sang Prabu Maharaja Linggabuwana Wisesa, Permaisuri Retna Lisning, dan putrinya Dyah Pitaloka. Semuanya gugur melakukan bela pati, sementara Permaisuri Ratna Lisning dan Dyah Pitaloka melakukan suduk salira (bunuh diri). Dari 20 pejabat kerajaan Sunda, dua orang diantaranya adalah Ki Nakhoda Braja dan Ki Nakhoda Bule yang mampu menewaskan lebih dari seratus orang.

Dari sumber yang lain diketahui bahwa iring-iringan itu didampingin juga oleh pasukan khusus pengawal raja, dikenal dengan nama Pasukan Balamati, yang berjumlah kira-kira 200 orang (ada yang menyebut juga 300 orang). Pasukan Balamati ini dilatih secara khusus dan diwajibkan untuk menguasai 7 aliran penca yang disebutkan oleh Kang Jali di atas. Pasukan inilah yang akhirnya berhadap-hadapan dengan lebih dari 2500 anggota Bhayangkara (Pasukan Khusus pimpinan Patih Gajah Mada).

Apabila diterjemahkan secara bebas, Sanghyang Sikshakandha Ng Karesiyan berarti kurang lebih Aturan Umum Kenegaraan (hasil keputusan Pejabat Tinggi). Mengenai Penca nya sendiri disebutkan bahwa anggota kerajaan diwajibkan menguasai Penca sesuai tingkatannya dalam kerajaan. Sedangkan masyarakat umum dibebaskan dari kewajiban tersebut, dan diutamakan lebih bertani dan berladang (dalam masa tersebut, peperangan bukan hanya memperebutkan wilayah, tetapi juga penduduknya, sebagai tenaga kasar dalam menghasilkan hasil ladang untuk negara). 

Mengenai apa 7 rupa penca tersebut, Cimande memang menjadi salah satu kandidat yang cukup kuat. Dalam catatan seorang tokoh Maenpo Cikalong/Sabandar disebutkan bahwa sebelum lahirnya Cikalong dan datangnya Sabandar, di bumi Sunda sudah menyebar penca Cimande dengan berbagai variasinya. Peran Abah Khaer sendiri adalah sebagai penyebar dan bukan pencipta. Abah Khaer dianggap sesepuh yang melakukan pengajaran dan penyebaran Cimande (saat itu) dengan lebih terbuka dan terstruktur (menjadi cikal bakal Cimande Tarik Kolot). Pendapat ini bertentangan dan memicu kepada perdebatan mengenai penciptaan Cimande oleh Abah Khaer dari hasil petunjuk istrinya yang melihat pertempuran antara Harimau (Maung / Macan --> Pamacan) dengan Monyet (--> Pamonyet). Sekedar informasi, di beberapa daerah di bumi parahyangan sendiri dikenal Penca Pamacan (Jurus Harimau) dan Pamonyet (Jurus Monyet).

Keberadaan dua penca tersebut (Pamacan dan Pamonyet) selalu dihubung-hubungkan dengan keberadaan Cimande itu sendiri. Walaupun secara kaedah ketiga Penca tersebut cukup jauh berbeda.


Kembali kepada penca Cimande yang "tidak mendapat sentuhan" Abah Khaer (ini istilah pribadi saya), Penca ini juga tetap berkembang dan dikenal dengan nama Cimande Buhun. Berbeda dengan Cimande Tarik Kolot, Cimande Buhun ini tidak memiliki sistem pengajaran sistematis seperti Cimande Tarik Kolot. Walaupun begitu, di kelompok ini Abah Khaer tetap dianggap sebagai pelopornya, disamping nama-nama lainnya yang sepertinya lebih cenderung kepada mitos.

Para praktisi meyakini Cimande salah satu yang tersisa dari ke tujuh penca itu, entah darimana data yang digunakan. Mengingat sejarah Cimande baru sebatas hanya diciptakan oleh Abah Khaer/Kahir melalui pengalaman usik dengan isterinya yang mendapat ilham ketika melihat pertarungan maung dengan kera. Hal ini diperkirakan terjadi abad 18, artinya beberapa abad jauh setelah Palagan Bubat.

Di artefak Batujaya, Babelan Bekasi ditemukan adegan perkelahian dengan kembangan-kembangan seperti silat, dengan nama uncul, ini terjadi sekitar abad ke 3M kemungkinan di zaman Salakanagara (Wangsakerta)...yg sekiranya ini benar maka terkuaklah bela diri  yang mendahului  Pajajaran. Di Siksakandha Ng Karesiyan ada 16 taktik tempur Pajajaran yang dari namanya kemungkinan bisa diindikasikan nama bela diri tersebut.

Aan Merdeka Permana (Pengamat folklor dan penulis Bandung), pernah meneliti dua daerah yang dianggap berkaitan erat dengan kekuatan militer Pajajaran, yaitu di Bojongemas dan Surade, Sukabumi Selatan.

Di Bojongemas, kabupaten Bandung yang merupakan tempat akademi militer dan Kamasan di zaman Prabu Surawisesa dulu, beliau mendapatkan nama Sentak Dulang sebagai salah satu nama bela diri Pajajaran. Sentak Dulang pada saat ini dikenal sebagai nama gunung disana.
Belum lagi di Surade yang terkenal sebagai tempat i'tikaf nya Prabu Bunisora dan Pusat pelatihan pasukan khusus Pajajaran.

Di kitab Purwaka Caruban Nagari dan Babad Klayan, banyak didapati nama-nama ilmu yang digunakan Kian Santang.

Sumber: sahabatsilat.com
Share:

Selasa, 15 November 2016

Sejarah Silat Gerak Gulung

Gerak gulung adalah aliran silat tua yang mulai membuka diri. Sebenarnya Gerak Gulung berasal dari aliran Gulung Maung yaitu aliran silat dari jaman Padjajaran. Gulung maung yang punya filosifi " Kembangna cilaka buahna pati" adalah silat yang membahayakan dan menghancurkan lawan. Namun setelah Eyang guru Haji Abdullah berusaha mengubah sedikit gerakanya sehingga Gerak Gulung tidak seganas Gulung Maung. Namun sudah menjadi rahasia dalam sebuah perguruan adanya jurus pamungkas . Jadi gerakan ganas Gulung Maung mungkin hanya untuk pewaris atau murid terbaik Gerak Gulung Budidaya ti Padjajaran.









https://tangtungan.com/gerak-gulung-budi-daya-ti-padjadjaran/









Share:

Selasa, 01 November 2016

Sejarah Silat Sabandar

Silat Sabandar atau Syahbandar adalah aliran silat yang berkembang di desa Sabandar, Karangtengah, Cianjur, Jawa Barat, yang dikembangkan oleh Muhammad Kosim dari Sumatra Barat[1]. Silat ini merupakan aliran silat campuran/hibrida antara Silat Minangkabau dan Silat Sunda. Asal negeri Mamak Kosim, demikian orang Sunda sekitar dia memanggil, di Minangkabau tidak diketahui secara pasti. Mamak di dalam bahasa Minangkabau artinya saudara laki-laki dari ibu. Di Cianjur, Mamak Kasim dikenal sebagai orang yang lembut dan penuh welas asih [2]. Dia mengajari murid-muridnya dengan lembut, ini menandakan karakter sabar dari seorang guru. Sifat dia yang lembut dalam mengajari silat, bukan berarti gerakan itu tidak berbahaya jika digunakan untuk membela diri. https://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Sabandar
Sebenarnya Masih ada beberapa versi mengenai Mama Kasim itu sendiri. Kenapa dia meninggalkan kampung halamanya. Berikut ini petikan diskusi di sahabat silat tentang Siapa Mama Kasim

Sewaktu rombongan Silek Kumango datang ke Jakarta atas undangan FP2STI, salah satu misi saya adalah bertanya kepada mereka ke-sahih-an cerita ini. Menurut pendapat saya, para Pendekar Silek Kumango paling tidak dapat memberikan sedikit info ttg keberadaan Muhammad Kosim karena Silek Kumango berasal dari Kab. Tanah Datar yg berlokasi tidak terlalu jauh dari Negeri Pagaruyung. Apalagi yg datang adalah Guru Gadang Silek Kumango yg for sure very knowlegdeabe ttg silat Minang terutama yg berasal dari Pagaruyung.

Alhamdulillah, moderator SahabatSilat.com, Kisawung, sebagai praktisi Sabandar tergerak hatinya untuk menanyakan Silat 5 jurus yg merupakan inti dari Maenpo Sabandar. Dan tidak disangka-sangka pula, Guru Gadang langsung "buka kartu" membuka rahasia Silek Kumango dengan bercerita bahwa sebenarnya Silek Kumango itu ada dua, yaitu Silek Kumango Tuo yang merupakan asli dari Syech Kumango pendirinya, dan Silek Kumango yg seperti dikenal sekarang. Diceritakan bahwa Silek Kumango orde Tuo dikuasai oleh salah satu anak dari Syech Kumango dan anaknya yg lain menciptakan Silek Kumango orde baru. Dan suatu hari bacakak-lah (berantem)kedua adik beradik ini. Perkelahian ini sangat panjang sampai pada akhirnya perkelahian tersebut dilerai oleh Syech Kumango himself dg satu pernyataan bahwa Silat Batin merupakan milik dari anaknya yg menguasai Silek Kumango orde Tuo dan anaknya yg menciptakan Silek Kumango orde baru disebut yg menguasai Silat Lahir. Dikarenakan hal itu, sang anak yg menguasai Silek Kumango Tuo pergi dari kampungnya dan entah pergi kemana. Dan surprisingly, Silek Kumango Tuo juga terdiri 5 jurus....!!

Lalu, apakah Mama Kosim sebenarnya merupakan sang anak dari Syech Kumango....


Untuk lebih jelasnya silahakn kunjungi http://sahabatsilat.com/forum/tokoh-pencak-silat/menyingkap-tabir-sosok-muhammad-kosim-pendiri-sabandar/
Share:

Cari

Pencak Silat In Action

Pencak Silat In Action
Pencak Silat In Action
Adsense Indonesia
Adsense Indonesia
Pasang Iklan 125x125
Pasang Iklan 125x125

Cari Blog Ini

 
Pencak Silat Blog | Introduction to Silat Indonesia | History of Silat: Silat Sunda